DPRD Kota Tegal

Tiga Masalah Utama Perumda Air Minum Tirta Bahari Tegal yang Butuh Perhatian Pihak Terkait

Bagikan

Kota Tegal- Meskipun capaian kinerja Perumda Air Minum Tirta Bahari (PDAM) Kota Tegal sesuai dengan indikator Kementerian PUPR
sepanjang 2025 memiliki skor 3,47 atau meningkat 0,03 poin dibandingkan 2024 yg hanya 3,71, akan tetapi bukan berarti perusahaan air minum plat merah itu terbebas dari masalah.

Ternyata, ada 3 masalah utama di Perumda Air Minum Tirta Bahari yang membutuhkan keseriusan untuk dipecahkan agar masalah masalah itu tereliminasi.

Hal itu disampaikan oleh Direktur Perumda Air Minum Tirta Bahari Kota Tegal, Hasan Suhandi, S.E saat memaparkan capaian kinerja dihadapan wakil rakyat dari gabungan 3 Komisi DPRD di ruang rapat Komisi 1 DPRD Kota Tegal, Senin (27/4/2026) siang.

Menurut Hasan, peningkatan itu didorong oleh kinerja di sektor pelayanan. Pertumbuhan pelanggan meningkat 4,31 persen dari 2024 dan berdampak pada aspek pelayanan 0,03 poin.

Berikut ini 3 masalah utama yang membutuhkan perhatian dan berdampak terhadap kemajuan perusahaan plat merah milik Kota Tegal:

Pertama, yaitu mengenai tingkat kehilangan air atau yang lazim disebut Non Revenue Water (NRW) yang cukup tinggi yaitu 35,28 persen, sementara target nasional NRW idealnya hanya 25 persen.

Akibat hal itu, perusahaan melakukan efesiensi operasional untuk mengatasi biaya produksi air yang tinggi dan tingkat konsumsi pelanggan domestik yang rendah.

Hal itu juga diperparah dengan cakupan pelayanan yang masih dibawah target nasional.

Kedua adalah keterbatasan sumber air baku sehingga mempengaruhi ketersediaan air baku yang akan didistribusikan.

“Kami selama ini hanya memiliki 3 sumber air yaitu mata air kali Bulakan di Bumijawa, Kabupaten Tegal, SPAM Bregas 1 dan SPAM Bregas 2 yang semuanya menghasilkan total jumlah air adalah 365 liter per detik untuk memenuhi 40.945 pelanggan se-Kota Tegal,” ujar Hasan.

Tantangan utama yang dihadapi dalam pengambilan air baku adalah belum dimilikinya izin pengambilan air atau SIPA/SIP SDA untuk mata air di Bumijawa, regulasi utk pengurusan SIPA juga menjadi hambatan.

Menurut Hasan, saat ini perusahaan sedang mengupayakan sumber mata air lain seperti di sungai Gung atau Ketiwon dalam bentuk program SPAM reguler demi ketersediaan air yang melimpah.

Ketiga, lanjut Hasan, yaitu perihal pipa jaringan distribusi yang sudah berumur dan cenderung korosi.

“Hal inilah yang menyebabkan biaya produksi sepanjang 2025 naik 2,31 persen dari tahun sebelumnya, yaitu mencapai Rp 52 Milyar. Ini dipengaruhi oleh tingginya biaya pemeliharaan pipa distribusi seiring dengan naiknya harga satuan pipa distribusi, ” jelasnya.

Hasan juga mengatakan, pendapatan total dari Perumda Air Minum Tirta Bahari selama 2025 mencapai Rp 63,65 Milyar, itu artinya ada kenaikan sekitar 0,46 persen dari 2024.

Dalam paparannya, Hasan menjelaskan kompetitor utama dari Perumda Air Minum Tirta Bahari adalah keberadaan air tanah yang masih layak konsumsi di masyarakat. Sementara, masyarakat masih beranggapan jika air bersih PDAM hanya digunakan untuk masak dan minum.

Dikatakan, sampai dengan akhir 2025, perusahaan memiliki 40.945 pelanggan yang terdiri dari 40.478 adalah pelanggan aktif dan sisanya 467 pelanggan tersegel.

Terkait pemakaian rata rata pelanggan 14,7 kubik hal ini sudah sesuai kebutuhan minimum, tetapi karena jumlah sumber air baku yang terbatas menghambat
optimalisasi distribusi.

“Untuk kwalitas air, kami rasa sudah memenuhi standar Permenkes Nomor 2 Tahun 2023 tentang peraturan pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 2014 tentang kesehatan lingkungan,” pungkas Hasan.(Jay)

Berita Terbaru

Lihat Lainnya

Scroll to Top