DPRD Kota Tegal

Mangir dalam Persepsi Budayawan Eko Tunas, Kisah Pengkhianatan Paling Pedih Sepanjang Sejarah

Bagikan

Kota Tegal- Pementasan teater RSPD Kota Tegal dengan lakon Mangir, di Taman Budaya Tegal (TBT), Sabtu (25/4/2026) cukup menyedot perhatian publik.

Acara yang digelar dengan 2 kali pementasan yaitu sore dan malam itu terbilang sukses, apalagi salah satu pemerannya adalah Wakil Walikota Tegal, Tazkiyatul Mutmainah atau yang akrab disapa Mba Iin.

Dalam pementasan itu, Mba Iin mendapat peran sebagai permaisuri dari panembahan Senopati yang memiliki anak perempuan bernama Retno Pembayun, diperankan oleh aktris teater asal Kota Tegal, Ida Fitri.

Menurut Budayawan Eko Tunas, secara kontekstual, lakon Mangir lebih mirip dengan kisah kekinian yaitu prahara antara Amerika dan Iran.

“Ini adalah kisah pengkhianatan, pengkhianatan paling pedih sepanjang sejarah yaitu berkhianatnya sang Retno Pembayun terhadap Wanabaya yang sudah menjadi suaminya,” ungkap Eko.

Eko Tunas mengatakan, panembahan Senopati diibaratkan sebagai negara super power Amerika yang dipimpin oleh presiden Donald Trump.

Sedangkan kerajaan kerajaan-kerajaan kecil, pasca runtuhnya kerajaan Majapahit , menjadi koloni Mataram, sebagaimana negara-negara Islam yang menjadi imperium Amerika.

Di antara kerajaan-kerajaan jajahan Mataram, adalah kerajaan Mangir yang dipimpin oleh Wanabaya yang selanjutnya dikenal dengan Ki Ageng Mangir.

Mangir tumbuh adi daya — subur makmur kuat — dan menolak takluk di bawah ke-senopati-an Mataram bahkan mampu membuat tentara Mataram kocar-kacir, lalu mengklaim sebagai Perdikan, yaitu wilayah yang terbebas dari pajak dan upeti.

Tahta Wanabaya ini diibaratkan sebagai negara Iran. Meski diembargo selama puluhan tahun, tetap tumbuh menjadi bangsa adi daya. Jika Wanabaya memiliki senjata ampuh bernama tombak Baru Klinting, Iran juga memiliki jutaan rudal dan bom yang cukup ditakuti oleh negara barat.

Menurut Eko Tunas, Iran dengan segala gunung dan selat hormus yang melindunginya, sama persis seperti daerah Mangir yang dilindungi oleh 5 gunung.

“Untuk melemahkan Iran, Amerika dibantu Israel dan tokoh sentralnya adalah Benyamin Netanyahu sang perdana menteri Israel. Seperti halnya juru Martani sang penasehat Senopati, dengan watak sengkuni nya lalu membuat strategi licik untuk melemahkan Wanabaya atau wilayah Mangir yaitu dengan taktik libido ergo sum,” ujarnya.

Lebih jauh Eko Tunas mengatakan, disusunlah strategi licik oleh Juru Martani dengan memasangkan Retno Pembayun, anak perempuan pertama panembahan Senopati berpura-pura menjadi penari Tayub.

Hal itu dilakukan agar Wanabaya terpikat dan jatuh cinta kepada Retno Pembayun. “Cerita ini pernah dia giat ke layar lebar dengan pemeran Retno Pembayun adalah artis bom sex yaitu Eva Arnaz,” ungkap Eko.

Eko menambahkan, dalam versi aslinya, Wanabaya akhirnya mengetahui jika wanita yang telah dibuahinya adalah anak dari panembahan Senopati yang sengaja dipasang untuk memata-matainya.

“Karena Pembayun sudah mengandung, maka Wanabaya mengurungkan niatnya untuk membantai Pembayun. Yang justru pada akhirnya Pembayun mampu mengajak Wanabaya untuk menghadap panembahan Senopati atau mertuanya sendiri guna ritual menantu sungkem mertua,” jelas Eko.

Seluruh senjata yang dibawa Wanabaya yang hendak sungkem kepada panembahan Senopati dilucuti, bahkan tombak kebanggannya, Baru Klinting. Itu semua atas gagasan dari Ki Juru Martani sang Sengkuni.

“Di saat Wanabaya sungkem, saat itulah panembahan Senopati lalu membenturkan kepala Wanabaya ke batu panjatan kaki. Maka tewaslah Wanabaya seketika yang diiringi tangisan Pembayun,” jelasnya.

Eko Tunas menegaskan, itulah lakon tentang pengkhianatan paling pedih sepanjang sejarah politik di Nusantara. Karena lazimnya, pengkhianatan dilakukan oleh teman sendiri, namun dalam kisah Mangir dilakukan oleh istri kepada suaminya.

“Saya sangat mengapresiasi teater RSPD dalam karya ke 74 nya yang bertajuk Mangir besutan sutradara Yono Daryono,” pungkas Eko Tunas.(Jay)

Berita Terbaru

Lihat Lainnya

Scroll to Top