DPRD Kota Tegal

Khozin dan Jaronah Butuh Uluran Tangan

Bagikan

Langkah kaki Khozin (74) tertatih dan tetap bergegas menuju Asrama Polisi R Suprapto di Jalan KS Tubun, Kota Tegal.

Di usia senjanya, Khozin masih setia bekerja sebagai pengambil sampah, pekerjaan yang telah digelutinya lebih dari dua dekade.

Di rumah kecil berukuran 4×11 meter di Jalan Sragen RT 01/ RW 01, Kelurahan Debong Tengah, istrinya, Jaronah (65) terbaring lemah.

Sudah setahun terakhir, Jaronah tak lagi mampu berjalan. Untuk sekadar berdiri, Jaronah tak sanggup.

“Kalau jalan sudah tidak bisa. Berdiri saja tidak kuat,” tutur Jaronah, Selasa 14 April 2026.

Sejak itu, seluruh urusan rumah tangga berpindah ke pundak Khozin. Mulai dari memasak, mencuci, membersihkan rumah hingga merawat sang istri, semuanya Khozin lakukan sendiri.

Upahnya sederhana, Rp 700 ribu per bulan. Namun bagi Khozin, yang lebih berat justru menanti sepulang kerja. Di usia senja, hari-hari Khozin tak lagi tentang beristirahat, melainkan bertahan.

Di saat Kota Tegal merayakan Hari Jadi ke-446 dengan berbagai kemeriahan, kehidupan Khozin berjalan dalam ritme yang berbeda.

Penghasilannya hanya cukup untuk membeli kebutuhan pokok, beras, telur, mi instan dan gula. Selebihnya, Khozin mengandalkan kemurahan hati tetangga.

Sesekali, penghuni asrama tempatnya bekerja memberi tambahan upah atau sekadar sembako.

“Alhamdulillah kadang ada yang ngasih,” ucap Khozin.

Namun bantuan dari pemerintah, menurut pengakuannya, sudah tak lagi Khozin rasakan.

Sejak perubahan kategori kesejahteraan atau desil, Khozin mengaku tak lagi menerima bantuan sosial apa pun.

Khozin sendiri tak memahami apa itu desil, apalagi alasan dirinya tak lagi masuk sebagai penerima.

Ketua RW 01 Debong Tengah, Heri Dwiranto, membenarkan kondisi tersebut.

Padahal sebelumnya, Khozin sempat menerima bantuan rehab rumah tidak layak huni atau RTLH sekitar tahun 2021 sebesar Rp 20 juta.

Namun, bantuan itu hanya cukup untuk memperbaiki atap. Kini, lantai rumahnya masih berupa tanah dan sebagian diplester seadanya.

Upaya pengajuan perbaikan lanjutan telah dilakukan. Namun, harus menunggu hingga lima tahun ke depan.

Bagi Jaronah, kondisi ini bukan hanya soal keterbatasan fisik, tetapi juga rasa tak enak hati kepada suaminya.

Jaronah harus bergantung sepenuhnya pada Khozin, untuk makan, mandi hingga beribadah.

“Saya kasihan sama bapak. Habis kerja masih harus ngurus saya,” kata Jaronah.

Meski demikian, Jaronah tak ingin membebani anak-anaknya yang kini telah berkeluarga.

“Mau minta tolong anak, mereka juga punya kehidupan sendiri,” ujar Jaronah.

Di sisi lain, harapan sederhana masih Jaronah simpan, bisa kembali memeriksakan kondisi kesehatannya.

Setiap hari, Jaronah merasakan nyeri di kedua kaki hingga pusing. Namun, keinginan itu masih tertahan oleh keterbatasan biaya dan akses.

Menurut Heri, Khozin sebelumnya masuk dalam kategori Desil 4, namun kini berubah menjadi Desil 6. Perubahan itu membuatnya tak lagi masuk prioritas penerima bantuan.

“Sejak ganti desil, Pak Khozin memang belum dapat bantuan apa-apa. Padahal kondisinya memang membutuhkan,” kata Heri.

Berdasarkan data, terdapat sekitar 15 lansia di Debong Tengah yang menerima bantuan permakanan setiap hari. Namun, nama Khozin dan Jaronah belum termasuk di dalamnya.

Pengajuan bantuan, termasuk Program Keluarga Harapan atau PKH lansia, telah dilakukan. Namun hingga kini, belum ada kepastian karena keterbatasan kuota.

“Sudah kami usulkan, termasuk penurunan desil. Tapi memang belum bisa,” kata Heri.

Di tengah segala keterbatasan, Khozin tetap menjalani hari-harinya tanpa banyak keluh.

Setiap pagi Khozin bekerja. Siang hingga malam, Khozin merawat istrinya.

Hanya rutinitas sunyi seorang lelaki tua yang berusaha menjaga hidup tetap berjalan. Di usia ke-446, Kota Tegal terus bertumbuh.

Namun di sudut kecil Kelurahan Debong Tengah, Khozin dan Jaronah masih berjuang dalam diam. (wn)

Berita Terbaru

Lihat Lainnya

Scroll to Top