Aliansi Mahasiswa Tegal, menyoroti tingginya kasus kekerasan anak di Kota Tegal saat audiensi bersama Pemerintah Kota Tegal di Ruang Rapat Komisi I DPRD Kota Tegal, Rabu 6 Mei 2026.
Dalam audiensi itu, mahasiswa mengkritisi masih maraknya kasus kekerasan yang terjadi di lingkungan anak dan sekolah.
Perwakilan Aliansi Mahasiswa Tegal, Isman Halim mengatakan, lingkungan sekolah seharusnya menjadi ruang aman dan nyaman bagi siswa untuk belajar.
Namun, menurut Halim, kasus kekerasan yang masih terjadi menunjukkan perlunya evaluasi serius, baik dari sisi pengawasan maupun pembinaan terhadap pelajar.
“Jangan sampai siswa malah tidak nyaman dan aman saat sekolah,” kata Halim.
Berdasarkan data yang disampaikan, pada 2025 tercatat terdapat 41 kasus kekerasan anak terjadi di Kota Tegal.
Selain persoalan kekerasan, Aliansi Mahasiswa Tegal juga menyikapi pentingnya dukungan terhadap organisasi pelajar.
Menanggapi kritik mahasiswa, Wali Kota Tegal Dedy Yon mengatakan, Pemkot telah membentuk satuan tugas atau satgas untuk menangani persoalan kekerasan di lingkungan sekolah.
Satgas itu, kata Dedy Yon, menangani berbagai kasus mulai dari kekerasan seksual, kekerasan fisik, perundungan hingga penyalahgunaan obat-obatan.
Menurut Halim, pelajar membutuhkan ruang berekspresi dan kegiatan positif agar tidak terjerumus pada perilaku negatif.
Halim mengungkapkan, sejumlah organisasi pelajar selama ini kerap mengalami kesulitan saat hendak menggelar kegiatan maupun mencari tempat untuk berkumpul dan berdiskusi.
“Tolong lebih perhatikan organisasi pelajar ini. Setidaknya mereka bisa berkreasi dan berkembang dari pelajar untuk pelajar,” ujar Halim.
Audiensi tersebut dihadiri Wali Kota Tegal, Dedy Yon, Wakil Wali Kota Tegal, Tazkiyyatul Muthmainnah, Ketua DPRD Kota Tegal, Kusnendro, Sekda Agus Dwi Sulistyantono hingga jajaran Dinas. (wn)