Kota Tegal- Plt Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Tegal, Yuli Prasetia menegaskan, bahwa Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah Bokong Semar di Kaligangsa, Margadana, Kota Tegal diproyeksikan dapat mendukung target nasional zero waste 2029.
Hal itu disampaikan Yuli dalam rapat kerja (raker) bersama Komisi III DPRD Kota Tegal dengan agenda membahas progres pembangunan TPA Bokong Semar di ruang Komisi III, Kamis (22/1/2026).
Raker diikuti oleh seluruh anggota Komisi III dan Plt Kepala DLH Kota Tegal, Yuli Prasetia serta Kepala Bidang Pengelolaan Sampah dan Limbah B3, Untung Pri Wibowo.
Untuk mewujudkan hal itu, Yuli mengatakan, konsep pengelolaan di lakukan melalui pengurangan timbulan sampah secara signifikan. Dengan pembangunan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu atau TPST skala menengah.
“Setiap tahun akan di usulkan pengurangan sampah secara signifikan melalui pembangunan TPST skala menengah. Harapannya, yang masuk ke TPA hanya residu,” ujar Yuli.
Yuli mengatakan, pada tahun 2026, DLH Kota Tegal merencanakan pembangunan satu unit TPST skala menengah. Saat ini TPA Bokong Semar memiliki tiga cell. Dan penambahannya akan di lakukan seiring perkembangan kebutuhan.
“Dengan sistem terintegrasi tersebut, di harapkan kebutuhan cell pembuangan dapat di tekan. Sementara timbulan sampah Kota Tegal saat ini mencapai 177 ton per hari, Dari jumlah tersebut, sekitar 113,69 ton per hari terangkut ke TPA,” ujar Yuli.
Sesuai target nasional, seluruh sampah harus terkelola 100 persen pada 2029. Sehingga pada tahun tersebut sampah yang harus di olah di TPST di perkirakan mencapai rata-rata 120 ton per hari.
Diketahui, TPA Bokong Semar sendiri memiliki luas lahan sekitar 14 hektar, namun baru terbangun sekitar 2,5 hektar.
Pembangunan TPA di mulai sejak tahun 2022 dan berlanjut pada 2025 dengan total anggaran Rp 3,85 miliar.
Anggaran tersebut di gunakan untuk pembangunan akses jalan sebesar Rp 1,55 miliar, instalasi pengolahan lindi atu IPL Rp 2 miliar serta jaringan listrik senilai Rp 300 juta.
“Untuk tahun 2026, DLH mengalokasikan anggaran murni APBD sebesar Rp 6,7 miliar,” jelasnya.
Anggaran itu antara lain untuk pembangunan hanggar TPST Rp 2,8 miliar, pengadaan mesin RDF kapasitas 15 ton senilai Rp 2,5 miliar, pembangunan kantor Rp 300 juta, pemindahan timbangan Rp 300 juta serta peningkatan kualitas jalan akses melalui DPUPR sebesar Rp 800 juta.
Namun demikian, Yuli mengungkapkan kebutuhan ideal pembangunan TPA Bokong Semar tahun 2026 mencapai Rp 13,5 miliar.
Kebutuhan tersebut meliputi tambahan mesin RDF kapasitas 15-20 ton senilai Rp 5 miliar, penambahan cell seluas 0,4 hektar Rp 3 miliar serta peningkatan kualitas jalan akses Rp 1,6 miliar.
“Dengan keterbatasan anggaran, kami menyusun rencana pembangunan bertahap hingga 2029,” jelas Yuli.
Pada tahun 2027, DLH merencanakan peningkatan kualitas jalan akses serta pembangunan TPST RDF kapasitas 60 ton, dengan total kebutuhan anggaran untuk pengurugan Rp 4 miliar, hanggar Rp 6 miliar dan mesin Rp 12 miliar.
Rencana serupa juga di lanjutkan pada tahun 2028. Disertai peningkatan kualitas jalan akses senilai Rp 1,6 miliar.
Sementara khusus tahun 2029, DLH merencanakan pembangunan cell baru di TPA Bokong Semar dengan luas satu hektar dan kebutuhan anggaran sekitar Rp 7 miliar.
Yuli menambahkan, tantangan utama pengelolaan TPA Bokong Semar pada tahun 2026 adalah kondisi cell yang mulai penuh serta akses jalan yang belum memadai.
“Ini yang menjadi perhatian utama kami dan juga Komisi III agar pengelolaan sampah ke depan bisa lebih optimal,” pungkas Yuli.(Riyanto Jayeng)