PSBB Kota Tegal Masih Sangat Longgar

By: nno
Rabu, 20-05-2020 12:36 wib
6
Share:

Aktivitas masyarakat di Kota Tegal kembali normal pada hari pertama pelonggaran atau relaksasi Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), Jumat (15/5) siang. Hal itu tak jauh berbeda pada saat masih diberlakukan PSBB untuk menekan penyebaran Covid-19. Dari hasil pantauan di lapangan, masyarakat nampak seperti biasa saja dengan pelonggaran yang diberikan Pemerintah Kota Tegal setelah 22 hari berlakukan PSBB. Dengan santai, mereka tetap melakukan aktivitas rutin seperti hari-hari biasa. Berkerumun dan belum menggunakan masker juga masih banyak ditemui hampir di setiap sudut kota. Tak terkecuali pusat perbelanjaan (mall-red) yang jam operasionalnya dikembalikan normal untuk mendongkrak perekonomian. Sejumlah pengunjung mall, mulanya masih mematuhi protokol kesehatan dengan mengenakan masker, menjalani pengecekan suhu dan memasuki bilik desinfektan. Namun, setelah masuk ke dalam mall, mereka kemudian melepas masker dan menyimpannya di dalam tas. Bahkan, pembatas beton yang dibuka sejak Kamis (14/5) malam tidak mengubah perilaku masyarakat dalam menghadapi pandemi Covid-19. Beberapa jalan yang dicanangkan sebagai akses masuk dan keluar menuju pusat kota nampak hanya sekadar wacana. Pasalnya, akses tersebut tetap digunakan hilir mudik kendaraan, baik yang akan masuk maupun keluar dari Kota Tegal. Seperti halnya yang terpantau di Jalan Sultan Agung dan Jalan Jenderal Sudirman. Separator beton yang dibuka separuh, dimanfaatkan masyarakat untuk keluar masuk. Padahal, rencananya Pemkot membuat Jalan Sudirman sebagai akses masuk kendaraan dari pantura dan Jalan Sultan Agung digunakan sebagai askes keluar dari pusat kota. Pemerhati Perencanaan Kota, Abdullah Sungkar mengatakan, tidak akan berpengaruh secara signifikan, pembukaan maupun penutupan jalan menggunakan beton. Sebab, pada pelaksanaannya PSBB di Kota Tegal masih sangat longgar. Artinya, meski sebagian ruas jalan diblokade, itu hanya akan menyebabkan pengalihan arus lalu lintas. Bukan menutup akses jalan, sehingga masyarakat bisa berputar untuk masuk ke Kota Tegal. Isolasi wilayah tidak sama dengan karantina wilayah, karena isolasi dilakukan dengan cara yang longgar dan hanya mengembalikan arus lalu lintas saja. “Misalnya warga dari Karanganyar itu harus ke Jalan KS Tubun. Tetapi jika Jalan Sultan Agung sudah dibuka, maka mereka akan memanfaatkan lajur tersebut,” katanya. Penerangan lampu jalan juga dinilai tidak ada signifikansinya terhadap kerumunan. Terkecuali pemadaman lampu pada ruang publik. Seperti di kawasan Alun-alun yang dianggap efektif. Karena bagaimanapun juga penerangan dapat menarik masyarakat untuk berkumpul. “Harus dibedakan PJU yang di jalan raya dan ruang publik. Kalau ruang publik mungkin tidak akan mendapat protes dari masyarakat jika dipadamkan. Karena pada pergerakan sirkulasi malam hari tidak besar di ruang publik, tetapi kalau yang di jalan raya sebaiknya dinyalakan,” imbuhnya.(wn)


Aspirasi Warga