Agenda Dewan

    Bawaslu Kota Tegal Launching Dan Bedah Buku Jejak Pemilu Di Kota Bahari

    Sekretariat DPRD Kota Tegal

    Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Kota Tegal, melaunching dan membedah buku berjudul Jejak Pengawas Pemilu di Kota Bahari, yang berlangsung di Kantor Bawaslu setempat, Minggu (14/8). Hadir sebagai pemateri, Kepala Kantor Perwakilan Suara Merdeka Tegal, Wawan Hudiyanto, Ketua Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) Kota Tegal Tahun 2004, Siti Hartinah dan Anggota Panwaslu Kota Tegal Tahun 2008, Farhendi Dwi Harjo, serta tamu undangan dan awak media. Ketua Bawaslu Kota Tegal periode 2018-2023, Akbar Kusharyanto mengatakan, dirilisnya buku tersebut diharapkan dapat mengetahui siapa saja pengawas pemilu yang berjasa dalam sejarah. Termasuk di antaranya peristiwa-peristiwa yang terjadi selama periode 2004 hingga saat ini. “Kita kumpulkan semua dokumen dan data-data sejarah pengawasan pemilu di Kota Tegal, yang terpisah-pisah dan kemudian dirangkum menjadi sebuah buku. Harapannya, masyarakat khususnya generasi penerus bisa tahu siapa-siapa yang terlibat dalam sejarah pengawasan Pemilu,” ujar Akbar. Ditambahkan Akbar, Bawaslu Kota Tegal juga ingin memberikan literasi kepada publik, bahwa buku tersebut bisa dan layak untuk menjadi sumber referensi tentang kepemiluan dan pengawasan di Kota Tegal. Selain itu, diterbitkannya buku berjudul Jejak Pengawas Pemilu di Kota Bahari, merupakan bentuk apresiasi Bawaslu Kota Tegal, terhadap rekan-rekan pengawas periode sebelumnya. “Rekam jejaknya patut untuk ditulis dan diabadikan melalui buku. Kita ceritakan semua kiprah hingga peran pengawas. Buku ini juga mewakili kehadiran Bawaslu yang dibutuhkan dalam penyelenggaraan pesta demokrasi,” tandasnya. Terpisah, Anggota Bawaslu Provinsi Jawa Tengah, M Rofiuddin menyebut, proses Pemilu di Indonesia memiliki proses yang cukup panjang. Begitu juga keberadaan pengawas Pemilu yang mengawal proses-proses demokrasi cukup panjang sejarahnya. Menurutnya, sejak tahun 1955 sudah ada Pemilu di Indonesia. Kemudian tahun 1980-an terbentuk pengawas Pemilu dan hingga saat ini proses-prosesnya juga masih diawasi oleh pengawas Pemilu. Berangkat dari itu, Bawaslu tidak ingin sejarah panjang itu terkubur begitu saja. “Kita ingin menggali sejarah-sejarah pengawas Pemilu sejak 2004 hingga sekarang, agar sejarah tersebut bisa kita pelajari dan ungkap untuk anak cucu sebagai pembelajaran, sekaligus peristiwa-peristiwa pengawasan Pemilu tidak hilang begitu saja. Untuk itu, Bawaslu Provinsi Jawa Tengah bersama Bawaslu kabupaten kota, menyusun sejarah buku pengawas Pemilu di masing-masing daerah,” bebernya. Sementara, para pemateri mengapresiasi langkah Bawaslu Kota Tegal, yang telah merilis buku dan menjadikan sumber referensi baru bagi publik dalam hal pengawasan Pemilu. Beberapa pemateri juga mengusulkan pemilihan judul buku, dengan penyebutan Kota Tegal, ketimbang Kota Bahari. Namun, terlepas dari itu, secara literatur buku tersebut dibuat cukup runut untuk menampilkan sejarah dari masa ke masa. Baik Legislatif 2004, Pemilihan Presiden (Pilpres) 2004 dan seterusnya.(wn)